Tampilkan postingan dengan label 24th Desembers Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 24th Desembers Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Februari 2012

Announcement!

Ekh-emn, good evening everyone~!
It's me, ZAAW ♥!


I already changed our banner~! and it's the second banner, then ^_^
Well, everyone. I want to tell you something. Since our second banner is on, we should make the third banner. And I've already though about it. Somehow, I want to make the third banner's like.. em..
The combination of Misaki Kagamine's, Cecil Salvatierra's, and Sylvana Evenbroost's picture together in one banner? I think that would be great ^_^
Since the three of them are all my protagonist characters :D


Wait a minute, do you know who's Sylvana? I bet you don't haha :D
Well, she's new, here ^_^
Would you mind me to introduce you to her?


As you know, I loves to make a tiny novels. Misa is my first women protagonist character in my first novel, named 
"Bee!_W.I " (still on going).
Here is it, The Bee!_W.I's cover ^^

Hmm, because the cover is not ready yet, I'll upload it as fast as I can *SLAPPED


Then, Cecil is my second women protagonist chara in my second novel, it's "24th Desembers" (finished already). You can directly see the cover below~! :3
24th Desembers Cover

Next, the one who's new is Sylvana. "I wonder, who is she?" you asked. I'll answer, "well, she's my third woman protagonist in my 3rd novel. Yaaay~! It's a great NEWS, right?
Sylvana is from my 3rd novel named "Syllie’s Walkthrough
"
This novel have a school life, slice of life, romance, comedy, and magic genres.
The story tells us about a 2nd junior high students who loves to make a doujinshi (that's Sylvana, and doujinshi is a short manga-like art. IF you still can't understand, find what is "doujinshi" at google :D), meet a 3rd Junior High student at a Park called Sharrown Garden. You can called that meeting as a fate (_ _").
I'll tell you what's next if you keep reading.
But this story will be airing start from 20th March of 2012
Make sure you'll read it nyan~! ♥♥
Syllie's Walkthrough's Cover
Ok,then. Can you find Sylvana? she's in the middle of the picture, of course!!
Cute,right?

Back to the topic.
Next month, I want to make a new banner with the combination of Misa's, Cecil's, and Sylvana's picture there. What do you think?

||-♫ ZAAW ♫-||

Sabtu, 07 Januari 2012

24th Desembers - Chapter 19


# Di hari saat Olimpiade.. #
          Hari itu kami berhasil mendapat medali emas. Beberapa minggu yang lalu kami berdua sudah belajar bersama kakak kelas, Jirou senpai dan Ai senpai. Kami juga belajar dengan keras di rumah.
          Mereka terlihat sangat senang. Guru-guru, Ai, Snake, Yuuka, Claire, Rima serta beberapa suporter dari sekolah bertepuk tangan keras.
          Namun Raven tidak pernah pulang ke rumahnya sejak hari itu saat dia meninggalkan rumahnya. Aku terus menanyakan pada Claire kemana ia pergi, namun Claire hanya tutup mulut.
Aku tahu pasti ada sesuatu.
# 3 tahun berlalu.. #
“Cecil!” seseorang membuka pintu kamarku dengan kencang.
Berhubung aku sedang berkaca, berbicara dengan Cama, aku dengan sengaja menghentikannya. “O-oh!”
          Walau umurku sudah berumur 17 tahun, kebiasaanku masih terus sama. Tiba-tiba aku melihat seseorang masuk ke kamarku. Laki-laki berbaju hitam, basah. Mukanya terlihat menyimpan sebuah kesedihan.
“Ciel!” teriakku.
“...” anak itu diam, dia menundukkan wajahnya.
Namun aku hanya tersenyum. Sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya karena dia lebih sibuk dengan sekolahnya.
          Untuk menghindari bencana karena kami adalah salah satu Anak Iblis yang bisa dipertemukan akan mengakibatkan bencana tidak pandang buluh, kami tidak tinggal se-rumah dan tidak belajar di sekolah yang sama. Kami pun jarang bertemu. Namun tidak ada sekecil bencana terjadi, sebenarnya aku sedikit penasaran apa yang terjadi?. Apapun itu, jika sepasang Anak Iblis disatukan, akan ada bencana datang.
“A-aku..” suaranya terputus-putus, “aku melihat.. sesuatu..”
Namun aku hanya mengambilkannya handuk, “kau basah,Ciel..”
“Jangan pedulikan aku,Kak!” ucapnya membantah, “saat ini air tidak akan membuatku lemah! Karena.. karena..”
“Aku tahu.. kau memang sudah berbeda dari Ciel 3 tahun lalu” ucapku dan memeluknya, “tapi setidaknya tenangkan pikiranmu dan bicaralah yang jelas..”
“Cecil..”
          Setelah sedikit mengeringkan badannya, Ciel tidak terlalu gemetar layaknya saat pertama kali masuk ke kamarku. Aku tahu air masihlah menjadi kelemahannya. Namun dia menutupinya untuk datang kemari.
          Ciel bercerita mengapa dia datang kembali. Dia juga meminta maaf akan masuk ke kamar anak perempuan tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. Namun aku tidak terlalu bisa mengerti apa yang dia ucapkan. Dengan sekejap, dia menarik tangan kananku dan membawaku keluar dari rumah.
          Claire pun berteriak kemana aku akan pergi, namun Ciel tetap memegangi tanganku dan berlari keluar. Pengasuh bayiku itu pun sepertinya mengikuti kami dari belakang. Aku berjalan di tengah hujan lebat dengan penuh kabut yang gelap dan membuatku ketakutan.
Tanganku mulai bergetar, aku ketakutan. Walau aku tahu Ciel ada di sampingku untuk menjagaku, aku tetap merasa takut. Melihatnya gagah dari belakang membuatku sedikit tenang. Namun kurasa karena hujan ini Ciel agak sedikit ketakutan juga.
“Kemana kalian akan pergi, Young Lady! Young Master?!” tanya Claire dari belakang, berlari sambil menjinjing rok panjang maid-nya.
Aku hanya bertanya pada orang di depanku, “kemana kita akan pergi?!”
Namun anak itu hanya diam.
          Sesaat kemudian, kami sampai di sebuah wilayah yang pernah kukunjungi sebelumnya. “Tempat ini..” aku berusaha mengingat, “Pemakaman Salvatierra?!”. Tepat di ujung wilayah, Nenek dan Rima berdiri disana, membawa payung dan melihat kearah mereka. Aku mendengar suara kaki Rima mendekat ke arah kita, “Ciel! Bajumu basah semua..”
“Jangan perhatikan aku!” teriak Ciel.
Dia menarik tanganku erat-erat dan membawaku ke tempat Nenek berdiri.
Pertamanya aku hanya melihat wajahnya dan lurus ke depan.
Lalu aku pun mengecek apa yang ada di depanku itu.
“Fran Salvetierra, 1 Januari XXXX – 12 Oktober XXXX” disana aku melihat makam Ayah. Tepatnya, Ayah kami berdua. Namun aku menemukan satu makam baru di sebelahnya, “Raven Salvatierra, 18 April XXXX – 12 Oktober XXXX” makam Mama, Mama kita berdua.
Saat melihatnya, aku merasa sangat syok. Benar-benar rasanya sangat pedih, kali ini aku menangis di antara air hujan. “Huaaaaaaaaaaa!!” aku benar-benar tidak bisa menahannya, aku terjatuh ke tanah, masih berteriak. Ciel mendekat kearahku dan menyentuh pundakku. Dia namun sama sekali tidak mengucapkan apa-apa.
“Ciel.. Cecil..” tiba-tiba Claire mendekat kearah kami.
Begitu pula Rima dan Nenek. Mereka berdua pun ikut menangis. Nenek yang merasa sedih kehilangan anaknya. Serta Rima pun sedih kehilangan orang baik yang ia kenal.
“Sebenarnya aku memiliki suatu rahasia” lanjut Claire, “maaf karena selama ini aku menyembunyikannya pada kalian.. karena Raven yang menyuruhku menyimpannya.”
“Mama?” ucap Ciel dengan wajah manisnya yang suram.
Claire mengangguk.
          “3 tahun lalu, saat dia meninggalkan rumah, Lady Raven memberitahuku sesuatu..” Claire memulai penjelasannya.
“Lady, anda akan pergi?” tanya Claire melihat Raven membuka pintu rumah.
Raven hanya mengangguk, pandangannya lurus kearah pintu.
Claire bertanya sekali lagi, “mau pergi kemana?”
“Kemana pun, aku tidak memikirkannya..” jawab Raven singkat. “Yang pasti aku sudah berpamitan kepada kalian semua.. Cecil, dan Ciel termasuk..”
“T-tapi..” ucap Claire mencoba mencegahnya.
“Aku sengaja pergi dari rumah ini untuk menyelamatkan mereka.”
“A-apa maksud anda?”
“Aku akan menghilangkan kutukan mereka, kutukan Anak Iblis.” Lanjut Raven, “tentu aku tak tahu akan pergi kemana, dan tak tahu akan kembali atau tidak..”
“J-jangan Lady!”
“Tapi..”
“...” ucapan Claire terpotong.
Raven berbalik, melihatkan wajahnya pada Claire, “tolong jaga mereka baik-baik ya, Claire..” dengan terkejutnya Claire melihat Nyonyanya itu.
Ibu itu tersenyum padanya, namun tangisan terus mengalir dari bawah matanya.

“Ah.. kurasa sudah sangat lama saat aku meninggalkan Cecil dan Ciel..”
          Orang itu berjalan di tengah orang berlalu-lalang, sendirian. “Apakah mereka baik-baik saja?” ucapnya dan terus mengatakan segala sesuatu tentang kedua anaknya di benak hati terdalamnya.
“Pesawat menuju Australia telah datang?” ibu itu berkata saat melihat jam jadwal pesawat di layar, “waktuku untuk berangkat.”

“Benar!” tiba-tiba Ciel berteriak.
Aku pun bertanya, “ada apa, Ciel?”
“Tadi pagi, saat aku sedang mencari berita di koran untuk tugas sekolahku, aku membuka koran-koran lama. Koran sekitar 1 tahun lalu kukira..” ucap Ciel menerangkan, “dan aku menemukan sebuah berita!”
“Jangan-jangan.. berita yang kau bilang tadi pagi itu,Ciel?” Rima menyambung, “Pesawat dari Jepang ke Australia Berakhir Tragis itu kah judulnya?!”
Ciel pun mengangguk.
“Berita itu pun membawa nama Mama..” lanjut Ciel.
“Banyak sekali korban dalam kecelakaan tersebut. Pesawat yang diterbangkan pada pagi hari ini, 12 Oktober pukul 6 pagi, tetap landas walau didalam cuaca yang kurang bersahabat. Salah satu korban adalah mantan istri bangsawan Inggris yang pindah ke Jepang, Raven Salvatierra. Namun bukan lagi Salvatierra, dia adalah Raven Sharrown.”
“Tidak mungkin..” aku masih belum bisa percaya hal ini.
“Aku tidak mungkin melupakannya..” Ciel berkata, “kata-kata itu persis seperti apa yang kulihat di koran tadi pagi!”
          Kami berakhir menghabiskan beberapa menit di makam itu. Tentu kami semua sedih atas berita itu. Kejadian itu terjadi 1 tahun lalu, namun tidak ada siapa-siapa yang memberitahu kami. Kami semua pun mencoba pergi ke bandara. Mencoba menanyakan tentang kejadian tahun lalu itu.
“Oh iya benar!” seorang petugas disana menerangkan pada kami, “kalau kalian ini memang keluarga dari Raven Sharrown aku akan memberi tahu kalian sesuatu.”
Kami semua melihat orang itu dengan wajah serius.
“Saat kami menemukan korban, hampir semua sudah tidak menyatu, anggota badan memencar kemana-mana. Hanya ada asap, darah, tulang, dan api disana. Sang pilot pun menjadi abu. Itu benar-benar kecelakaan terburuk yang pernah kami alami!. Namun kurasa, Raven adalah satu-satunya korban yang tidak terlalu parah. Walau dia sudah tergeletak tanpa nyawa di tanah, tubuhnya masih sempurna, mungkin hanya ada luka bakar saja.”
“Lalu?” tanya Ciel, wajahnya mulai tidak sabar.
“(sepertinya itu adalah kecelakaan yang mengerikan..)” ucapku dalam hati.
Petugas itu pun melanjutkannya, “dia memegang sebuah kertas di tangannya. Jika aku mati, kubur aku di Pemakaman Salvatierra, letakkan aku di samping suamiku. Dan gantilah namaku menjadi, Raven Salvatierra.”
          Setelah mendengarkan ceritanya kami berterima kasih padanya dan pulang. Walau Mama dan Papa sudah bercerai, aku yakin mereka masih bagian dari keluarga kami.
          Beberapa hari berlalu. Kurasa kutukannya telah menghilang, kami tidak tertimpa sebuah kesialan atau apapun walau kami selalu bersama. Namun kecelakaan Mama mengubah semua. Memang beberapa hari setelah kami mengetahui hal itu, kami hanya diam muram. Hari demi hari terlewati, justru kami merasa hari-hari ini lebih hangat dari sebelumnya.
“Mama..”
“Papa..”
“Aku..”
“dan Ciel..”
“Kita akan selalu bersama,kan?”

||-♫ ZAAW ♫-|| 

24th Desembers - Chapter 18


Semua orang di sekitar kami berdua terkejut karena kami berdua berhenti menangis. Kami membuka mata kami lebar-lebar, terdapat 1 bola mata violet dan biru pada setiap mata kami. “I-ini.. anak ini adalah Anak Iblis!” teriak dokter.
          Lalu seorang suster pun menyalakan alarm merah, semua orang menjadi panik. Kami adalah salah satu dari anak iblis, anak yang menyebabkan masalah.
          Pertama-tama Mama dan Papa tidak menganggap kata-kata orang dan menganggap anak kembar mereka adalah bayi yang normal. Namun seberjalannya waktu, mereka ditimpa berbagai macam musibah. Akhirnya mereka bertengkar dan memutuskan bercerai.
“Jadi.. Fran Salvatierra itu Papaku?” tanya Ciel bingung, “tapi Mama bilang kan Papaku udah meninggal sejak aku bayi?!” berteriak kearah Raven.
Raven bergeleng.
“Selama ini, kita berarti sudah hidup di dalam kebohongan?” tambahku.
“Sebenarnya aku tidak keberatan dengan bencana yang menimpa kami dulu itu” Mama mencoba menerangkan, “namun Fran terus memarahiku. Kami dijauhi keluarga kami dan kehilangan banyak harta.”
“...” kami berdua hanya diam.
“Padahal.. hal yang ingin Mama rasakan hanya..” ia melanjutkan, suaranya menjadi tidak jelas, “hanya bisa berkumpul dengan kalian!”
Aku mendekat kearahnya dan memeluknya.
“Mama sudah bersama kami,kok..” tambah Ciel dan mengikuti perbuatanku.
          Sore itu Mama bermaksud untuk pergi. Jika ia terus bertatap muka dengan Ciel itu bisa menyebabkan penyakit alerginya kumbat.
“Jadi.. apa yang akan kita lakukan?” Ciel bertanya padaku.
Aku menggelengkan kepalaku, “mungkin seharusnya kita bersiap sekolah besok.”
“Kau benar” jawabnya dan tersenyum.
          Ciel bercerita padaku sedikit tentang Rima. Saat orang tua kami berpisah, Mama memutuskan untuk tinggal bersama Ciel dan Papa tinggal bersamaku. Kejadian itu terjadi saat kami baru berumur 2 tahun. Namun Mama memiliki penyakit alergi terhadap Ciel, jadi ia tidak bisa terus berada di sekelilingnya.
          Suatu hari, Ciel dan Mamanya sedang bermain di sebuah taman. Namun tiba-tiba Mamanya meninggalkannya dan Ciel duduk sendirian disana. Tiba-tiba datanglah seseorang menghiburnya yang sedang kesepian, Michisika Rima namanya.
“Hey” seorang anak perempuan mendekati Ciel kecil berumur 4 tahun.
Ciel melirik kearahnya tanpa berucap apapun.
Anak perempuan itu mendekat, “b-boleh aku bermain denganmu?”
“Dimana Mamamu?” tanya Ciel singkat.
“Mereka berdua menghilang..” ucapnya dan menunduk.
Ciel berdiri dari tempat duduknya, “apakah orang tuamu sudah mati?”
Anak itu mengangguk.
Angin berhembus sejenak, mereka terdiam.
“Mamaku pun baru saja menghilang..” Ciel bercerita, “Papa pun sudah mati.”
“Berarti apakah kita sama?” tebak anak perempuan itu.
“TIDAK. Mama berjanji tidak akan mati sebelum aku besar nanti!”
Rima tersenyum padanya dan menangis, “Papaku juga mengatakan yang sama denganku. Namun dia mengingkari janjinya padaku..”
“Sudahlah, kau tidak boleh menangis. Kata Mamaku anak kecil tidak boleh menangis!”
“Siapa bilang?” Rima berusaha menyangkal, “bukannya anak laki-laki yang tidak boleh menangis? Larangan itu tidak berlaku untuk anak perempuan sepertiku!”
“Oh. Kau perempuan ya?”
“Iya!”
Mereka diam sejenak.
“Hey, anak perempuan!” ucap Ciel memulai dengan nada keras.
“Hey!” Rima tidak menerima ucapannya, “jangan panggil aku anak perempuan!”
“Lalu? Kan benar kau ini memang anak perempuan!”
“Panggil aku Rima!” ucap Rima.
“Berarti kau ini Rima bukan anak perempuan! Iya,kan?”
“BUKAN! Aku ini anak perempuan bernama Rima!” teriak Rima, jengkel.
“Oh..” Ciel menampilkan wajah begong, “kalau begitu aku ini anak laki-laki bernama Ciel. Ciel Sharrown lengkapnya.”
“Wah.. namamu manis sekali! Sama seperti wajahmu!”
Ciel hanya bengong, “oh, iya ya?”
          Mereka bermain sebentar disana. Lalu Ciel mengajak Rima pergi ke rumahnya. Sudah dari saat Raven berpisah dengan Fran, Isabelle tinggal bersama Ciel. Maklum karena mereka bercerai saat kita berumur 2 tahun, kita tidak mengingat apapun tentang keluarga kami yang sebenarnya.
          Setelah masuk ke rumah Ciel, mereka berdua bertemu Isabelle. Nenek Ciel, Isabelle itu bertanya siapa nona cantik yang berjalan di sebelah Ciel. Padahal selama Isabelle bertanya-tanya tentang Rima, Ciel sedang asik sendiri pergi menjelajahi kediaman megahnya itu mencari Mamanya.
“Bagaimana kalau kau tinggal disini, Rima?” tanya Isabelle padanya.
Namun Rima hanya kebingungan, “t-tapi..”
          Ternyata hari itu adalah dimana orang tua Rima meninggal karena kecelakaan. Sebenarnya dia akan dibawa ke panti asuhan saat itu pula, namun Rima melarikan diri dan bertemu Ciel di taman. Isabelle yang mendengar cerita itu tersentuh, mengingat cerita anaknya yang bercerai, anak kembar mereka pun ikut menderita.
Sedangkan itu, Ciel..
“Mama!” dia berlari kesana kemari memanggil Mamanya, “Mama!?”
“Mama dimana?!” anak itu terus mencari, “Mama kan udah janji kalau Mama akan menemaniku bermain di taman itu,kan?! Kenapa Mama pergi?! Kalau mau main petak umpet bilang aku dulu dong! MAMA!”. Raven memang sengaja meninggalkan dia karena badannya mulai tidak dapat berdiri. Selain penyakit alerginya pada Ciel, Raven juga memiliki memiliki tubuh yang cukup lemah. Hal ini terjadi saat sehabis dia melahirnya kedua anaknya, namun dia tidak pernah menyeritakannya pada siapapun.
Ciel pun akhirnya bertanya pada neneknya. Namun Isabelle juga tidak tahu sepatah apapun tentang Raven. “Bukannya tadi dia bersamamu pergi ke taman, Ciel dear?” ucap Neneknya yang malah bertanya.
“Oh.. jadi begitu ya?” aku berusaha memahami berjuta-juta perkataannya tadi, “kalau begitu, kau itu layaknya orang yang pernah menyelamatkan Rima,begitu?”
“Kurang lebih begitu. Dan kalau aku pikir-pikir itu, dulu wajahnya benar-benar gemetaran serta ketakutan, aku pun baru menyadarinya beberapa hari ini” jawab Ciel.
          Hari itu berlalu sangat cepat. Kami berdua bercerita banyak hal. Ciel pun pulang pada malam harinya, Rima dan Nenek mengkhawatirkannya.
GowGow_Bloogie@Everyone
Cecil = wah! Hari ini GowGow_Bloogie ramai sekali!
Cama = terlihat seperti pasar malam~
Ciel = kalian semua berisik! Ah berisik! Diam!!
Yuuka = duh! Ciel yang sabar dong. Kita aja nggak tau kenapa kumpul begini!
Ayaka = Ciel-kun.. walau berteriak begitu kau tetap sangat manis..
Rima = Maru-chan.. hentikanlah, Ciel tak suka padamu..
Claire = ada yang mau roti panggang?
Snake = aku!
Ai = kau benar-benar memalukan! Diam kau, Jirou!
Cecil+Ciel = siapa Jirou?
Ayaka = itu nama kakak yang asli.. and Ai sudah membongkarnya..
Jirou/Snake = Ah! Bodoh kau, Ai!!
Ai = maaf,maaf.. aku keceplosan!!
ZAAW = BERISIK!!
Yuuka = oh, teman-teman, lihat siapa yang datang..
Raven = siapa kau? *baru datang juga*
ZAAW = Ah.. Raven. Masa kau tidak ingat akan pembuatmu ini!?
Cecil = oh.. kau ZAAW yang membuat 24th Desembers itu ya..
Ciel = oh. Ahaha, maaf sebenarnya kalau kamu nggak ngingetin aku juga akan lupa!
ZAAW = by the way, aku punya pengumuman untuk semuanya~
Ayaka = pengumuman hari pernikahanku dan Ciel-kun~ ah~
Ciel = TIDAK!
Raven = jangan khawatir sayang, ada Rima kok..
Rima = kenapa bisa menjadi saya?!
Isabelle = anak muda memang selalu bersemangat, ya.. kufufu
Fran = PENGUMUMAN, ini adalah GowGow_Bloogie yang terakhir.
ZAAW = ya. itu adalah beritanya, terima kasih Om Fran..
Fran = sama-sama
Sasha = (huh, andai aku masih bisa tampil..) ß tokoh yang sudah mati.
ZAAW = *berbisik ke Sasha* (jangan khawatir, teks yang kau omongkan terlihat kok!)
Cama = huh.. berarti chapternya udah mau selesai dong?!
Jirou = tepatnya ceritanya, Cama. Eh tunggu, siapa CAMA?!
Cecil = jangan tanya, Snake senpai..
Ai = terima kasih untuk pembaca, pembaca setia maupun tidak setia..
Isabelle = kata-katamu kurang sopan,sayang.
Claire = tolong tetap mengsuport kita di hari kedepan!
Raven = ZAAW juga bicara dong, bagaimana ini?
ZAAW = nggak. Biar kalian yang bicara saja.
Yuuka = memangnya kenapa kau tidak ingin bicara?
ZAAW = saya sudah sering mengoceh di blog =_=”
Rima = baiklah.. kore kara mo..
Ai = zutto!
Everyone = yoroshiku onegashimasu!
*tutup layar*

||-♫ ZAAW ♫-|| 

24th Desembers - Chapter 17


Aku selalu penasaran tentang nama Ciel dan namaku, Cecil yang hampir mirip. Apalagi ditambah dengan warna mata kita mirip sama namun hanya menukar warna, tambah membuatku penasaran saat pertama kali bertemu dengannya.
Wajah Ciel menurutku itu menakutkan saat kita pertama kali bertemu, sama seperti yang dikatakan Yuuka, Rima, dan lainnya. Dan kata mereka juga, termasuk Claire wajahku pun terlihat mengerikan dan acuh tak acuh saat pertama kali mereka bertemu denganku. “Kau ini terlihat sangat dingin, Cecil” ucap mereka, “namun itu hanya saat pertama kali kita bertemu.. beberapa hari kemudian, aku menyadari kau tidak begitu. Justru kau anak yang lucu dan segar.” Hal itu terus menghantuiku sehingga aku sering menyendiri dan jarang memiliki seorang teman.
“Saat anak iblis lahir, jika orang tuanya tidak bercerai mereka akan kena kutukan atau buruknya kematian. Ada beberapa cara menghindari kutukan itu, satu.. membunuh anak iblis itu, dua.. orang tua bercerai dan menjauhkan hubungan antar si kembar iblis tersebut. Jika tidak.. mereka semua akan selalu sial!” seketika terpikirlah ucapan Ciel sesaat Raven berbisik di telingaku dan Ciel.
Ayah meninggal..
Rumahku.. dan Mama Sasha pun.. semua menghilang.
“Be-berarti..” Ciel terlihat amat terkejut, “selama ini.. Mama..”
“...” aku hanya diam dengan melongo tidak percaya.
Namun Raven hanya tersenyum kearah kami.
“Tapi.. jika kita bertemu seperti ini.. berarti—“ ucapan Ciel terputus.
“Mama tahu sayang” Raven pun menjawab, “Mama tahu..”
          Mama Sasha memang tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan orang yang menggendongku di foto yang kuambil di kamar Ayah. Dan kurasa dia sedikit gila. Tanpa berpikir apa-apa aku langsung berlari, keluar dari rumah itu dan berlari ke rumah Raven.
          Kurasa Ciel dan Raven berusaha menghentikanku, namun aku terus berlari. Sampai di rumah pun Claire terlihat kebingungan. Aku menuju ke kamarku dan melihat foto itu lagi. “Ayah.. ada apa dengan semua ini?” ucapku mengeluarkan air mata, “hey.. jadi kau menyembunyikan hal penting semacam ini pada anakmu sendiri?! Hey, Ayah!” teriakku dan terus memandang foto itu. Air mataku pun terjatuh membasahinya.
          Tiba-tiba terterang sebuah tulisan yang terlihat di dalam foto itu saat air mataku membasahinya. Aku berhenti merengek, namun mencermati kata-katanya. “Des..” aku membaca tulisan itu hati-hati, “jangan-jangan?”
          Aku pun langsung membalik foto itu. Kuraba foto tersebut dan aku terkejut, foto itu telah diberi kertas pelapis. Segera aku membuka lapisan itu. Ternyata benar, di belakang foto itu terletak sebuah tulisan.
“Kediaman Salvateirra, 24 Desember. Hari ini Cecil dan Ciel berulang tahun yang ke 2. Semoga kalian tidak menghancurkan keluarga kita dan tumbuh normal.”
“A-apa?” aku tak sanggup membacanya, “i-ini..” dengan samar-samar aku terus memandanginya. “Berarti.. Raven..”
          Tanpa berpikir apapun juga, aku langsung memeluk foto yang sudah kuno itu sambil menangis dan berteriak. Sendirian berada di kamarku yang tenang itu. Setidaknya bisa membuatku melepaskan seluruh bebanku.
“Cecil!” tiba-tiba seseorang mendobrak pintu kamarku.
Aku mengenal suara ini, suara lembut seseorang yang aku kenal.
Dengan perlahan, aku berputar memandang wajahnya.
Orang tersebut terlihat terkejut.
Air mataku yang mengalir memasuki hati manisnya.
“Ciel..” ucapku perlahan. Masih memeluk foto itu.
Anak itu pun mendekat kearahku, memelukku sekeras mungkin yang ia bisa.
“(Kenapa dia memelukku?)” aku bingung berpikir di dalam hati, “(bagaimana dia bisa kesini?! Ciel..)”
“Semuanya adalah kebohongan” ucap Ciel berbicara, “kau tahu itu,kan, Cecil?” ia masih memelukku.
“I-iya..” tubuhku gemetaran, sudah ketiga kalinya aku merasakan pelukan hangat seperti ini. “...”
          Pelukan Papa, pelukan Ciel, dan.. pelukan Raven?
“Tapi sekarang kita sudah membongkarnya, iya kan?” lanjutnya, “Cecil..”
Aku mulai tersenyum, “iya” dan meraba rambut birunya yang lembut.
“Apa kau berpikiran sama denganku?” tanyanya.
“Iya” jawabku tidak ini berhenti melepas pelukannya, “rasa hangat ini, kurasa?”
Perlahan, aku mendengar rengekan Ciel yang memulai menangis. Dia berteriak sekeras mungkin yang ia bisa. Aku hanya tersenyum, dia pantas menangis sepertiku tadi. Karena tangisannya yang tiada henti, aku melepas pelukannya dan melihat wajahnya.
“Aku tidak ini memiliki adik yang cengeng..” ucapku dan tersenyum.
Mendengarnya Ciel pun berusaha mengentikan tangisannya, “tapi tadi kau juga sedang menangis!” sepertinya dia tidak ingin mengalah.
Aku pun tersenyum, “kau benar..”
          Selama ini aku menganggapnya sebagai teman. Namun, sekarang semua rahasia telah terbongkar. Aku sendiri pun masih belum mengerti. Ciel Salvatierra, itulah nama aslinya. Mulai dari sekarang, aku pun tidak akan menganggapnya sebagai teman saja.
# Keesokan harinya #
          Ciel memutuskan untuk menginap di rumah Raven. Claire pun terlihat senang semalam sampai dia memeluk Ciel dengan erat.
“Cecil? Kau sudah bangun?” Raven membuka pintuku.
“Iya” dengan semangat aku menghampirinya.
Raven tersenyum, “ada sesuatu yang ingin aku bahas..”
          Dia mengajakku ke ruang makan. Ciel pun ada di sana, sedang meminum segelas teh, dengan beberapa roti serta cangkir teh di sebelahnya.
“Jadi.. apa itu,Mama?” ucap Ciel yang mengambil 1 iris roti.
Kami berdua pun duduk di salah satu kursi.
“Hey, Raven..” aku menunjuk ke salah satu roti.
Sepertinya dia mengerti dan mengambilkannya untukku, “sudahlah.. jangan panggil aku dengan nama itu,Cecil..” dan ia tersenyum.
Terlintas di kepalaku bisikkannya kemarin, “oh! Maaf aku lupa..”
“Hey!” Ciel yang tidak sabar memotong pembicaraan, “kesini mau apa sih?!”
          Raven menyuruhku untuk memanggilnya dengan nama yang berbeda. “(Ah! Benar! Hari itu!)” terlintas di benakku tentang pertama kali kita bertemu, “(apa yang dia ucapkan saat itu?)”.
“Seorang ibu pasti menyayangi anaknya, kalau tidak sayang berarti bukan seorang ibu yang baik.”
          Saat itu aku sendirian, kabur dari rumah karena Mama Sasha yang jahat padaku namun tidak ada siapapun yang mau mendengarkan curhatku. Aku lapar, aku kedinginan, aku kesepian, aku sedih, aku bingung pada saat itu. Hanya diam duduk di sebuah kursi lalu melihat permen-permen dari jendela. Tiba-tiba seseorang datang di belakangku, orang itu adalah Raven.
Jika Ayah yang datang pada waktu itu, pasti sudah banyak SM dibelakangnya, suasana disana pasti akan sangat ribut. Jika Mama Sasha yang datang, dia pasti akan membunuhku di depan jendela toko roti itu. Jika Claire yang datang, pasti tidak mungkin karena tugasnya belum selesai dan pasti dia senang asik bernyanyi di dapur sambil mencuci piring. Jadi itu pasti orang lain, Raven.
“Mama..” kata-kata itu keluar dari mulutku, “Mama.. Raven?”
Raven pun tersenyum, dan sepertinya dia melihatkan mata berlinangnya.
Ciel hanya kebingungan dengan perkataanku.
“Jika kalian sudah mengetahui identitas kalian.. maka..” Mama berkata sambil menahan air mata keluar dari mata indahnya, “akan ada sesuatu.. terjadi..”
“Aku tahu itu,Mama” tiba-tiba aku dan Ciel menjawab hal yang sama.
“Jadi..” aku melanjutkan, menunduk seperti orang putus asa.
Ciel pun menambahkan, “apa ada yang bisa kita lakukan?”
“Mama yang akan menghilangkan kutukan kalian” ucap Raven tersenyum, “kalian tidak usah khawatir, ya? Cecil,Ciel..”
“T-tapi!” aku menahannya.
“Nggak bisa,Ma!” begitupun Ciel.
Raven tetap tersenyum, seperti rasanya itu adalah senyuman terakhirnya.
          Dia bercerita padaku dan Ciel saat itu. Berbagai kata-kata yang sama sekali kita tidak ketahui terterang pada ceritanya. Kami mendengarnya dengan serius, lain jika seorang guru menerangkan pelajaran di kelas.
          Beberapa tahun lalu, keluarga Salvatierra tinggal damai. Tepatnya mereka bisa hidup damai untuk 5 tahun saja. Fran Salvatierra menikah dengan Raven Sharrown. Namun pesta pernikahan mereka tidak berjalan mulus, Raven tersandung dari sepatu hak tingginya.
          Setelah mereka pindah ke rumah mewah mereka yang baru di inggris, terjadi sebuah peperangan keluarga. Isabelle Sharrown, ibu dari Raven menginginkan anaknya untuk bercerai dengan Fran. Dan tahun berikutnya, keluarga Salvatierra berperang untuk mendapatkan harta warisan. Namun kedua konflik itu dapat terasasi. Isabelle bersabar karena anaknya terlihat senang saat berada di sebelah suaminya, dan Fran pun anak yang mendapat warisan termakmur dari keluarganya.
          Satu tahun kemudian, mereka memiliki anak. Pada tanggal 24 Desember pukul 11.50 malam lahirlah anak mereka yang pertama, diberi nama Cecil Salvatierra. Namun tepat pukul 12.00 saat tengah malam, seorang bayi menyusul lagi dan diberi nama Ciel Salvatierra. Saat Ciel berhasil keluar, sebuah petir yang amat besar menyambar sampai lampu rumah sakit padam. Cecil dan Ciel yang sempat menangis menghentikan tangisannya.
“Kalian adalah..”
“Anak kembar Mama dan Papa.. Cecil Salvatierra, Ciel Salvatierra..”
GowGow_Bloogie@Claire
“Ciao~ Claire’s here~”
          Huh, mereka bertiga pasti sedang asik reuni keluarga di ruang makan. Aku disini hanya sedang mencuci piring sendirian. Tapi, tidak apa lah, aku juga bisa bernyanyi untuk menghibur diriku sendiri. Hahaha.
Ciel = siapa bilang kita sedang asik sendiri?
Cecil = hal yang kita bicarakan itu tidak menyenangkan, tapi mengharukan!
Claire = tunggu, kalian mendengarku bicara?!
Cecil+Ciel =  *mengangguk*
Claire = baiklah.. aku tidak bisa berbohong. Tapi, dimana Raven?
Ciel = oh! Iya!
Cecil = perasaan tadi Mama dibelakang.. dimana ya?

||-♫ ZAAW ♫-|| 

24th Desembers - Chapter 16


Akhirnya kami pergi ke Resort yang baru kami sadari dari kemarin letaknya hanya 10 meter dari villa. Kami pun mengunjugi kamar nomor 33. “Permisi..” dengan membawa tas biru yang kita temukan kami masuk kedalam.
Seorang ibu menyapa kami, “iya? Bisa saya bantu?”
“I-ini..” Ai-senpai menyerahkan tas biru itu padanya.
“Ini kan..” ibu itu menerimanya, “Lala.. Lulu.. dari mana kalian mendapatkannya?!”
          Dengan begitu kami ber-4 bercerita pada mereka tentang apa yang kami lihat. Mulai dari suara keras itu sampai kami datang kesini dengan detail supaya tida ada kesalah pahaman. “Jadi.. begitulah ceritanya” ucap Ciel yang banyak bicara.
 “Mereka benar-benar melakukannya, mereka..” ibu itu menangis.
Sedangkan suaminya juga belum bisa berkata apa-apa.
“N-nah. kami pamit dulu..” kurasa tidak enak mengganggu momen mereka, jadi aku berkata dan menyuruh teman-temanu itu untuk pamit. Alasan kedua, aku sudah tidak tahan untuk pulang ke rumah dan meminjam buku Ciel tentang Anak Iblis itu, kudengar ada novelnya jadi aku bersemangat.
          Mereka memberi nomor teleponnya, kami saling memberi supaya jika ada masalah bisa dihubungi lagi. Bodohnya, kami lupa bertanya siapa nama mereka padahal mereka tahu nama kita satu-per-satu, pasti begitu. Di hand phoneku mereka hanya kuberi nama, “Papa Lalu” dan “Mama Lalu” (Lalu = Lala dan Lulu).
“Hah.. setidaknya buku kalian sudah hampir selesai kan?” Snake senpai berkata di dalam kereta perjalanan pulang.
Ai senpai mengangguk, “senang juga berlibur bersama kalian ahaha”
“Makasih ya, senpai” aku dan Ciel menjawab kompak.
“Kita juga punya mengalaman baru..” sambung Ciel.
“Anak Iblis itu..” lanjutku dan melihat ke jendela, “membuatku penasaran.”
“Besok, datanglah ke rumahku dan pinjam buku-buku referensi tentang itu. Mau? Ketawarkan lo” ucap Ciel padaku, tersenyum.
“Ok!”
          Keesokan harinya..
Masih ada satu hari libur lagi, jadi aku meminta ijin pada Claire untuk mengijinkanku pergi ke rumah Ciel karena rasa penasaranku tentang novel itu. Aku tidak menemukan Raven sejak aku bangun, Claire bilang dia sedang belanja.
Selesai memakan semangkuk serealku, aku pergi ke rumah Ciel pukul 10 pagi. Pertamanya aku menghubungi Ciel bahwa aku akan ke rumahnya. Dan pergi kesana. Sekarang, kehidupanku sungguh berbeda. Dari rumah yang nilainya 1 ton emas menjadi setengah kurang dari itu. Aku sudah tidak punya Ayah dan Ibu, dan tinggal bersama orang yang kurang kukenal namun itu merupakan orang yang menyelamatkanku dan pengurus bayiku. Walau harta masih berlimpah, aku tidak merasa bisa mengambilnya.
“Wah! Cecil!” Rima menyambutku, dia sedang memegang serangkai bunga di taman depan mansion Ciel, “Ciel bilang kau akan datang..”
“Iya, aku ingin meminjam buku padanya..” ucapku riang.
“Kalau begitu masuk saja, ayo” ucap Rima ramah dan menyuruhku masuk, “kebetulan hari ini Mamanya Ciel datang, kurasa dia sedang berbincangd dengannya.”
“Mamanya,Ciel?” aku bertanya, “wah..”
“Sebentar ya” ucap Rima untuk memanggilkan Ciel.
          Aku menunggu di ruang tamu yang besar, serasa ada di rumahku yang dulu. “Hey, Ayah..” ucapku berbicara sendiri sambil melihat keatas, “kau dimana sekarang? Apakah kau bahagia disana? Atau sedih?”.
Tiba-tiba, “Ah! Cecil!”
Aku menoleh, “Ah! Ciel!” dan melihat seseorang datang. Dia adalah temanku yang bertampilan manis namun memiliki wajah yang cukup dingin.
“Jadi.. kamu datang untuk meminjam bukunya?” tanya Ciel.
“Pastinya..” aku menjawab, “maaf merepotkan lo..”
“Tidak apa-apa” Ciel tersenyum dan mengajakku ke perpustakaan rumahnya.
          Setelah cukup lama browsing disana, aku tidak hanya meminjam buku-buku referensi tentang Anak Iblis-nya saja, namun juga yang lain. Memang nafsuku untuk novel itu tidak bisa ditahan.
“Ahaha seperti biasa, kau memborong novel ya?” ucap Ciel tertawa.
Aku pun menjawab, “ahaha iya, maaf ya..”
“Tak apa. Kau yang membuat perpustakaan ini hidup kembali kok, aku senang.”
“Hidup kembali?” ucapku bingung.
“Iya” jawabnya singkat.
“Ohoho, kalau hidup perpustakaan ini bisa berjalan dong..” ucapku bercanda, “ahahaha!”
“B-bukan lah!” Ciel pun menjawab jelas, wajahnya menunduk kebawah.
“Maaf, tapi bagaimana maksdumu?” tanyaku yang masih belum mengerti.
“Jadi, bagaimana ya..” Ciel berpikir sejenak, “dulu, Mamaku sering berkunjung kesini. Namun gara-gara penyakitnya dia jadi jarang kesini. Mama dan Nenek adalah satu-satunya orang yang senang membaca buku, dia juga seorang kutu buku, sama sepertimu. Tapi nenek yang bertambah tua hari demi hari, semakin jarang berkunjung kesini.”
“Mamamu?” aku menjawab, “(tadi.. Rima bilang kan..)”
“Oh iya! Itu mengingatkanku tentang sesuatu!”
“Apa?” tanyaku.
“Mamaku sekarang sedang berkunjung, baiknya bagaimana kalau kuperkenalkanmu padanya?” ujar Ciel, “lagian tidak enak kalau ada teman orang tua tidak tahu.”
“B-benar juga ya..”
“Kalau begitu, ayo!” dia pun memegang tanganku dan mengajakku keluar.
          Disana aku diajak ke sebuah ruangan yang mirip seperti rumah kaca. Banyak sekali tanaman disana. Dinding kaca, dengan tanaman tinggi dan merambat. Kursi-kursi dan meja dari besi berukir bunga-bunga. Ada seperangkat teh di mejanya. Aku juga melihat sebuah piano putih di pojok ruang, “tempat apa ini?” tanyaku.
“Ini tempat yang paling disenangi Mama” jawab Ciel dan melepas genggamannya.
“Indahnya..”
“Mama?” tiba-tiba Ciel memanggil Mamanya, “kau dimana?”
Suara piano tiba-tiba terdengar, Ciel pun tersenyum.
          Dia berjalan kearah piano itu, “Mama.. temanku berkunjung. Aku ingin memperkenalkannya padamu” ucapnya. Aku tetap diam di tempatku, merinding mendengar suara pianonya yang merdu. Tangan Ciel menarik berlahan telapak tangan halus yang muncul dari balik piano tersebut. Aku tidak sabar melihat wajah Mamanya.
          Perlahan, aku melihat rambung abu-abu terangnya muncul. Sempat berpikir, “i-itu kan..”. Namun aku menunda perkataanku, dan melihat ibu itu tersenyum. “Halo, Cecil..”
“Raven!?” aku terkejut dan berteriak.
Ciel yang masih menggenggam tangan Mamanya itu hanya bingung.
“Shh” Raven dengan anggun seperti biasa itu bergeleng, “seorang Young Lady sepertimu tidak boleh berteriak karena tidak sopan, benar?”
“K-kenapa kau?!” wajahku berisi kebingungan.
Ciel berkata, “tunggu, kau mengenal Mamaku?!”
Dan aku menjawab, “tunggu dulu!“
“Aku tidak mengerti!” aku dan Ciel berkata dengan serentak.
“Ciel?” aku melihatnya, bingung.
Begitupun Ciel, “Cecil?”
“He?” kami berdua bingung dan diam sejenak.
“Ahaha” Raven tertawa kecil, “lucu sekali kalian ini.. Cecil, Ciel..”
“I-ini..” aku merasakan hal yang berbeda.
“Kenapa ini..” sepertinya Ciel juga merasakan hal yang sama.
Raven tersenyum pada kami. Dia membawa Ciel yang masih menggenggam tangannya kearahku. “Cecil dan Ciel, kalian ini adalah..” Raven memeluk kami berdua dan membisikkan kata-kata terakhir dari kalimatnya pada kami. Dengan setengah percaya kami mendengarnya, “ha?” dan hanya bisa menjawab dengan wajah kebingungan.
Ibu itu pun menangis, “aku sangat senang.. benar-benar senang..” ucapnya dan memeluk kami lebih kencang. Kami berdua pun memeluknya kembali tanpa mengucapkan kata-kata. Hari ini benar-benar hari yang tidak terduga.
GowGow_Bloogie@Cecil+Raven+Ciel
“Selamat sore semua.. Raven disini~”
“Cecil, sang pemeran utama juga disini~”
“Begitu pula aku, Ciel.”
Raven : kufufu~ akhirnya ada chapter yang membuat penasaran pembaca
Ciel : tadi Mama ngomong apa sih? Bisikannya terlalu pelan..
Cecil : kau ini, berusaha dengar dong!
Raven : hmm.. tidak ada pemutaran ulang ya! jika kamu lihat ke chapter 17 awal sampai akhir juga tak akan ketemu..
Cecil : kalau begitu tebak-tebakkan saja!
Ciel : baiklah.. karena tadi kalimat awalnya “Cecil dan Ciel, kalian ini adalah..” dan setelahnya misteri, apa kata-katanya?
Raven : kalian ini adalah.. anak yang cantik dan ganteng..
Ciel : ya sudah pasti dong, Ma!
Cecil : pastinya, nyehehei~
Raven : kalian ini adalah.. alien..
Ciel & Cecil : *melongo* benarkah?
Raven : rahasia!
*tutup layar*

||-♫ ZAAW ♫-||